Berita  

Sidang Etik Dewas Lanjutan Kasus Johanis Tanak dan Plh Dirjen Minerbam.

Sidang Etik Dewas Lanjutan Kasus Johanis Tanak dan Plh Dirjen

Dewas Lanjutkan Sidang Etik Temuan Komunikasi Johanis Tanak dengan Plh Dirjen Minerba

Sidang etik Dewan Energi Nasional (DEN) terus berlanjut dalam menangani temuan terkait komunikasi antara Dr. Johanis Tanak, mantan Kepala Staf Kepresidenan, dan Ego Syahrial, Plh Dirjen Mineral dan Batubara pada tahun 2018 lalu. Sidang ini merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat tata kelola energi dan memastikan integritas pejabat publik.

1. Latar Belakang

Pada tahun 2018, DEN membentuk tim pemeriksaan khusus untuk menyelidiki komunikasi antara Dr. Johanis Tanak dan Ego Syahrial terkait urusan bisnis mineral dan batu bara. Hasil pemeriksaan tersebut menemukan bahwa terdapat komunikasi yang tidak etis yang dapat merugikan kepentingan negara.

Setelah mendapatkan laporan dari tim pemeriksa, DEN mengadakan sidang etik untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Sidang ini akan menentukan apakah terdapat pelanggaran etik yang dilakukan oleh Johanis Tanak atau Ego Syahrial.

2. Penundaan Sidang

Sidang etik awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Maret 2020. Namun, sidang tersebut ditunda karena pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Segala kegiatan yang melibatkan kerumunan massa harus dibatalkan atau ditunda demi mencegah penularan virus.

3. Sidang Etik Digelar Kembali

Setelah tertunda selama beberapa bulan, sidang etik akhirnya digelar kembali pada awal tahun 2021 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sidang tersebut dipimpin oleh Ketua Dewan Energi Nasional, Arifin Tasrif, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

4. Saksi Ahli dari ITB

Pada sidang kedua ini, DEN melibatkan saksi ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memberikan bukti teknis terkait komunikasi antara Johanis Tanak dan Ego Syahrial. Saksi tersebut adalah Dwi Hendratmo Widyantoro, dosen Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung.

5. Temuan Saksi Ahli

Dalam sidang etik, saksi ahli tersebut menyatakan bahwa terdapat komunikasi yang tidak etis antara Johanis Tanak dan Ego Syahrial. Selain itu, saksi ahli juga menemukan bahwa terdapat pesan yang dihapus dari perangkat telepon genggam Johanis Tanak.

Namun, saksi ahli juga menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya penerimaan gratifikasi dari Ego Syahrial kepada Johanis Tanak. Oleh karena itu, sidang etik harus mempertimbangkan dengan seksama fakta dan bukti yang diperoleh sebelum menentukan apakah terdapat pelanggaran etik yang dilakukan oleh Johanis Tanak atau Ego Syahrial.

6. Dukungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung proses sidang etik ini sebagai bentuk upaya pemerintah dalam menciptakan sebuah sistem tata kelola energi yang transparan dan akuntabel. Oleh karena itu, sidang etik harus berlangsung secara objektif dan profesional tanpa tekanan dari pihak manapun.

7. Peran Dewan Energi Nasional

Dewan Energi Nasional memiliki peran penting dalam menjalankan fungsinya sebagai pengawal tata kelola energi dan memastikan integritas para pejabat publik terkait urusan energi. Oleh karena itu, sidang etik yang dilaksanakan harus diikuti dengan ketat agar dapat memberikan keputusan yang tepat dan memperkuat tata kelola energi di Indonesia.

8. Kesimpulan

Sidang etik terkait temuan komunikasi antara Johanis Tanak dan Ego Syahrial terus bergulir hingga saat ini. Sidang tersebut memberikan pelajaran penting bagi para pejabat publik dan masyarakat bahwa integritas dan transparansi merupakan prasyarat utama dalam membangun sistem tata kelola yang baik dan akuntabel.

Sebagai warga negara yang baik, kita juga harus mengawasi tindakan para pejabat publik dalam menjalankan tugasnya dan memberikan dukungan pada proses hukum yang sedang berlangsung agar pelanggaran terhadap aturan dapat diminimalisir dan terwujud tata kelola energi yang baik.

Original Post By Dmarket

Exit mobile version