Menurut beberapa orang, Pendekatan ketahanan pangan yang diambil oleh Menlu dianggap kurang tepat.

Menurut beberapa orang Pendekatan ketahanan pangan yang diambil oleh Menlu

Pendekatan Ketahanan Pangan ala Menlu Dinilai Tidak Tepat dalam Bahasa Indonesia

Pada tahun ini, dengan munculnya isu-isu terkait ketahanan pangan, banyak pihak yang memperdebatkan tentang pendekatan yang tepat dalam menangani masalah ini. Salah satu pendekatan yang mendapat sorotan adalah pendekatan ketahanan pangan ala Menteri Luar Negeri. Namun, pendekatan ini dinilai tidak tepat dalam bahasa Indonesia. Mengapa demikian?

Pertama-tama, pendekatan ketahanan pangan yang diusung oleh Menlu dinilai terlalu terfokus pada aspek diplomasi. Menlu justru lebih fokus pada kerjasama dengan negara-negara luar dalam hal pertukaran bahan pangan. Hal ini dinilai kurang tepat karena ketahanan pangan seharusnya lebih berfokus pada keberlanjutan produksi pangan dalam negeri dan peningkatan kualitas pangan.

Selain itu, pendekatan ketahanan pangan versi Menlu juga dinilai kurang komprehensif. Menurutnya, pengadaan pangan yang cukup dan aman sudah cukup untuk mencapai ketahanan pangan. Padahal, ketahanan pangan juga melibatkan aspek lain seperti aksesibilitas pangan yang merata, distribusi yang efektif, serta adanya kebijakan yang mendukung petani lokal dan pangan lokal.

Lebih lanjut, pelaksanaan pendekatan ketahanan pangan ala Menlu juga dinilai kurang berkesinambungan. Menteri Luar Negeri lebih memilih kerja sama dengan negara-negara luar daripada memperkuat kedaulatan pangan dalam negeri. Padahal, untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan, diperlukan upaya peningkatan produksi pangan lokal, pemanfaatan lahan yang efisien, dan penggunaan teknologi yang tepat guna.

Tidak hanya itu, pendekatan ketahanan pangan ala Menlu juga dianggap kurang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Menlu lebih cenderung mengedepankan kerjasama dengan negara-negara luar dalam hal impor bahan pangan, tanpa memperhatikan dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai contoh, penggunaan pestisida yang berlebihan dalam produksi bahan pangan impor dapat merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pendekatan ketahanan pangan ala Menlu juga menuai kritik karena kurang menekankan perlindungan terhadap petani lokal dan komunitas masyarakat geografis yang rentan terhadap kelaparan. Alih-alih memberdayakan petani lokal, pendekatan ini justru lebih memilih impor bahan pangan dari luar negeri. Padahal, dengan mendukung dan memperkuat petani lokal, kita dapat mencapai ketahanan pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Dalam kesimpulannya, pendekatan ketahanan pangan ala Menlu dinilai tidak tepat dalam bahasa Indonesia karena terlalu terfokus pada aspek diplomasi dan kurang komprehensif serta berkelanjutan. Untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan, diperlukan pendekatan yang lebih holistik yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, petani lokal, dan masyarakat. Pengembangan produksi pangan dalam negeri serta kebijakan yang mendukung pertanian lokal harus menjadi prioritas utama agar kita dapat mengatasi masalah ketahanan pangan dengan lebih efektif dan berkelanjutan.

Original Post By Dmarket