Kemenkeu: Jika PPN Tak Dinaikkan, Program Perlindungan Sosial Terimbas

  • Share
PPN 11 Persen Berlaku, UMKM Omzet di Bawah Rp 500 Juta Bebas Pajak

Dmarket.co.id – Pajak merupakan instrumen penting untuk menopang perekonomian Indonesia, karena 80 persen penerimaan negara berasal dari pajak. Untuk itu, agar dapat membiayai pembangunan dan menjaga kesehatan APBN dibutuhkan penerimaan negara yang kuat.

Sebagai bentuk pembenahan berkelanjutan dari sisi administrasi dan kebijakan, pemerintah pun menyusun Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) sebagau reformasi perpajakan untuk membangun fondasi perpajakan jangka menengah dan panjang. Salah satu amanatnya adalah penyesuaian tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen yang berlaku sejak 1 April 2022.

Staf Khusus Menteri Keuangan (Stafsus Menkeu) Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo menjelaskan, pengaturan terkait PPN merupakan bagian tak terpisahkan dari konsolidasi fiskal dan reformasi perpajakan untuk mendukung penerimaan perpajakan yang optimal dan berkesinambungan.

Penyesuaian tarif PPN ini juga merupakan cerminan dari prinsip gotong royong, yaitu yang mampu membayar lebih besar dan yang tidak mampu dibantu. Masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM pun terus mendapat dukungan.

“Selama ini seluruh lapisan ekonomi masyarakat harus menanggung beban PPN yang sama, semestinya yang mengonsumsi barang atau jasa lebih banyak atau lebih eksklusif harus diatur secara terpisah agar tercipta keadilan dalam pemungutan pajak,” ujar dia dikutip, Rabu (20/4).

Dalam melaksanakan UU HPP, pemerintah sepenuhnya mempertahankan fasilitas PPN yang saat ini berlaku (existing). Barang dan jasa yang semula nonbarang kena pajak atau nonjasa kena pajak dan menjadi barang kena pajak atau jasa kena pajak menurut UU HPP, diberikan fasilitas pembebasan PPN.

“Sehingga meskipun merupakan barang dan jasa kena pajak, masyarakat berpenghasilan kecil dan menengah tetap tidak akan membayar PPN atas konsumsi barang dan jasa tersebut sebagaimana yang berlaku saat ini,” imbuhnya.

Momentum penyesuaian tarif PPN ini juga sudah tepat, karena selama menghadapi pandemi Covid-19, APBN telah menjadi instrumen utama untuk melindungi masyarakat dan memulihkan ekonomi. Defisit anggaran disesuaikan hingga batas tiga persen PDB.

“Jika ditunda, program-program perlindungan sosial akan turut terimbas. Potensi penerimaan negara juga akan semakin rendah, sementara belanja perlindungan sosial masih menjadi kebutuhan utama di tengah pandemi,” pungkas Yustinus.

#Kemenkeu #Jika #PPN #Tak #Dinaikkan #Program #Perlindungan #Sosial #Terimbas

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *