IHSG Semester Satu Cenderung Tertekan, Potensi Rebound Akhir Tahun

  • Share
Jawapos TV

Indeks harga saham gabungan (IHSG) relatif bergerak fluktuatif sepanjang semester I 2022. Faktor eksternal sangat kuat memengaruhi pergerakan pasar saham dalam negeri.

SECARA global, pasar saham relatif bergerak menanjak pada awal 2022. Itu sejalan dengan optimisme investor yang meyakini pandemi Covid-19 segera berakhir. Sejumlah negara turut melonggarkan pembatasan mobilitas warganya. Dengan harapan, pertumbuhan ekonomi dunia akan membaik tahun ini.

’’Januari sampai Februari indeks mulai rally (naik) ke atas,” ucap Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee saat dihubungi Jawa Pos, Jumat (17/6).

Pada 24 Februari pasar dikejutkan dengan invasi Rusia ke wilayah Ukraina. Serangan tersebut memberikan tekanan pada seluruh bursa global. Termasuk Indonesia. Saat itu IHSG merosot di zona merah dengan minus 102,24 poin atau turun 1,48 persen di level 6.817,82.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina mendorong kenaikan harga komoditas energi. Terutama, batu bara. Sepanjang Februari 2022, harga batu bara sudah menguat sebesar 38,22 persen secara month-to-month (MtM).

Memasuki Maret, harga emas hitam makin tancap gas dengan menyentuh level USD 446 per ton. Bahkan, jika dihitung secara year-to-date (YtD), banderolnya terkerek sampai 233,83 persen sehingga membuat indeks Indonesia cepat melakukan recovery dibandingkan negara lain.

’’Jadi, ketika perang itu meletus di Eropa, dana tersebut keluar dari Eropa. Pindah ke negara lain. Salah satunya, ke negara yang kaya sumber komoditas. Termasuk Indonesia,” terangnya.

Bahkan, IHSG kembali memecahkan rekor tertingginya sepanjang masa alias all time high pada perdagangan 5 April. Ditutup di level 7.148,299 dengan nilai kapitalisasi pasar alias market cap Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tembus Rp 9.006 triliun.

Memasuki Mei, IHSG meninggalkan level 7.000. Penurunan itu disebabkan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 50 basis poin (bps) pada tanggal 4. Sejalan dengan pengumuman inflasi Amerika Serikat yang berada di level 8,5 persen.

Data-data tersebut lantas memicu kekhawatiran potensi resesi ekonomi AS bagi investor dan masyarakat. Inflasi tinggi tentu berdampak terhadap daya beli konsumen. Ditambah, peningkatan harga komoditas energi dan gangguan rantai pasokan yang berkelanjutan membuat inflasi tetap tinggi.

Pada 15 Juni lalu, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) atau 0,75 persen. Langkah bank sentral AS itu dilakukan untuk meredam gejolak kenaikan harga-harga. Dengan harapan, dapat memperbaiki situasi ekonomi jangka panjang.

’’Tapi, pelaku pasar mulai khawatir karena inflasi sulit dijinakkan. Sebab, inflasi datang dari supply side yang mana kenaikan suku bunga hanya memengaruhi demand side sehingga krisis global meningkat,” beber Hans.

Merespons sentimen itu, pasar saham Indonesia mulai melorot. Hingga pada perdagangan Jumat (17/6), IHSG terkoreksi 113,36 poin atau minus 1,61 persen di posisi 6.936,97. Hans memperkirakan, pasar saham dalam negeri akan cenderung berfluktuasi dan tertekan sampai akhir Juni. Bagi para investor, sebaiknya jangan membeli di atas level 7.000. Agak memilih membeli di rentang 6.500–6.700.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu masih optimistis IHSG berpotensi finis di level psikologis 7.000 pada akhir tahun nanti. IHSG akan mulai rally kembali untuk naik memasuki pada kuartal IV 2022.

Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal I OJK Djustini Septiana menyatakan, setelah menghadapi tantangan pandemi Covid-19, kini pasar modal dihadapkan pada risiko global. Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuannya, ada kekhawatiran risiko pembalikan modal atau sudden risk reversal dari investor asing.

Namun, dia melihat kekhawatiran itu tak sepenuhnya terjadi. Sebab, pasar modal Indonesia masih bisa ditopang pertumbuhan investor domestik yang didominasi generasi muda. ’’Memang ada penurunan, tetapi nyatanya bisa diserap kembali oleh investor lokal,” ujarnya.

Data hingga 3 Juni 2022, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 8.886.976 atau tumbuh 18,66 persen YtD. Dari jumlah tersebut, investor dengan usia 30 tahun ke bawah mendominasi dengan porsi 59,91 persen. Dari sisi kepemilikan aset, investor berusia 60 tahun ke atas masih menguasai dengan nilai Rp 553,09 triliun. Disusul investor usia 51–60 tahun dengan kepemilikan Rp 243,30 triliun.

Di sisi lain, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyebutkan, pengaruh sentimen global lebih besar ketimbang domestik dalam penentuan performa IHSG. Ditambah, dari sisi nominal, kepemilikan investor asing lebih besar ketimbang investor lokal. ’’Ada gejolak sedikit saja, orang asing yang menanamkan uangnya di Indonesia akan langsung mengganti portofolionya dan pindah ke negara lain,” ungkapnya.

PASAR MODAL HINGGA 17 JUNI 2022

– Emiten: 787 perusahaan

– Investor: 8.886.976 SID

– Kapitalisasi: Rp 9.087,685 triliun

– Beli bersih investor asing: Rp 69,211 triliun

PERGERAKAN INDEKS SEKTORAL PERDAGANGAN JUMAT (17 JUNI 2022)

Healthcare

– Sebelumnya: 1.477,437

– Terakhir: 1.494,909

– Selisih: naik 1,18 persen

Property

– Sebelumnya: 692,833

– Terakhir: 691,119

– Selisih: turun 0,25 persen

Infrastructure

– Sebelumnya: 945,881

– Terakhir: 938,553

– Selisih: turun 0,78 persen

Energy

– Sebelumnya: 1.690,703

– Terakhir: 1.673,044

– Selisih: turun 1,04 persen

Cyclical

– Sebelumnya: 895,795

– Terakhir: 885,341

– Selisih: turun 1,17 persen

Sumber: Bursa Efek Indonesia



#IHSG #Semester #Satu #Cenderung #Tertekan #Potensi #Rebound #Akhir #Tahun

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.